BeritaOlahraga

Turnamen Golf Dongkrak Pariwisata Batam,Ekonomi Bergerak Masif

27
×

Turnamen Golf Dongkrak Pariwisata Batam,Ekonomi Bergerak Masif

Share this article

Batam – Industri golf di Indonesia terus menunjukkan perkembangan pesat dan kini dianggap sebagai salah satu sektor olahraga dengan kontribusi ekonomi terbesar. Pernyataan ini disampaikan oleh akademisi Universitas Negeri Jakarta, Yafi Velyan Mahyudi, pada rangkaian kegiatan Batam Pro-Am Golf Tournament 2025 yang berlangsung di Palm Spring Golf, Nongsa, Kota Batam, Sabtu (22/11/2025).

Yafi menjelaskan bahwa golf, baik di level amatir maupun profesional, telah lama beroperasi sebagai sebuah industri dengan ekosistem ekonomi yang kompleks dan saling terhubung.

Menurutnya, karakter industri golf dapat terlihat mulai dari proses pembangunan lapangan yang memerlukan investasi tanah dan konstruksi bernilai besar, sehingga membutuhkan perencanaan jangka panjang. Dari sisi pemain, olahraga ini banyak digemari oleh kelompok ekonomi menengah atas yang menjadikan golf bukan hanya sarana rekreasi, tetapi juga tempat membangun jejaring bisnis.

“Setiap lapangan golf menggerakkan banyak sektor ekonomi. Tenaga kerja mulai dari perawatan turf, operator golf cart, caddy, hingga pelaku UMKM seperti kuliner dan transportasi terlibat dalam rantai ekonomi yang berjalan setiap hari,” jelas Yafi.

Batam Jadi Contoh Kota dengan Industri Golf Solid

Ia mencontohkan Batam sebagai wilayah yang memiliki potensi besar. Meski luas kotanya tidak terlalu besar, Batam memiliki sedikitnya enam lapangan golf yang tingkat kunjungannya sangat tinggi. Aktivitas lapangan terlihat dari ramainya area parkir hingga konsumsi layanan yang tersedia di sekitarnya.

“Cukup melihat parkirannya saja sudah terlihat bagaimana perputaran ekonominya. Para pemain menghabiskan waktu berjam-jam di lapangan, mulai dari makan, minum, menyewa alat, hingga memanfaatkan berbagai layanan lain,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa turnamen golf kerap menyediakan hadiah bernilai tinggi, seperti mobil mewah untuk pemenang hole-in-one. Hal ini menarik minat sponsor besar sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata olahraga.

Batam sendiri dinilai sebagai destinasi wisata golf unggulan. Kedekatannya dengan Singapura dan Malaysia, serta biaya kompetisi dan perjalanan yang relatif lebih murah, membuat banyak wisatawan dari Eropa hingga Timur Tengah memilih Batam sebagai tujuan golf.

“Begitu sebuah turnamen dipublikasikan, golfer mancanegara langsung datang. Mereka menginap, makan, menyewa transportasi, dan mencoba beberapa lapangan sekaligus. Mobilitas inilah yang menjaga industri wisata golf tetap hidup,” ujar Yafi.

Dampak Ekonomi Langsung dan Luas

Pergerakan golfer domestik maupun internasional memiliki dampak nyata terhadap tingkat hunian hotel, restoran, transportasi, hingga pusat perbelanjaan.

Pada satu event nasional dengan peserta 200–300 orang, rata-rata pengeluaran seorang golfer dapat mencapai Rp7–10 juta, termasuk tiket perjalanan, hotel berbintang, biaya lapangan, hingga konsumsi.

“Jika 200 peserta menghabiskan 10 juta per orang, nilainya sudah mencapai 2 miliar rupiah. Itu belum termasuk pendamping, tim, sponsor, maupun hadiah,” jelasnya.

Secara nasional, Yafi optimistis industri golf mampu mencatat perputaran ekonomi hingga triliunan rupiah setiap tahun, mengingat ratusan lapangan golf beroperasi setiap hari di berbagai daerah Indonesia.

“Liga sepak bola saja bisa menghasilkan lebih dari 10,4 triliun rupiah setahun. Golf beroperasi setiap hari, bukan hanya dua kali seminggu. Saya yakin angkanya berada di level triliunan,” tambahnya.

Manfaat untuk Masyarakat Kecil

Ia menekankan bahwa meski golf sering dianggap sebagai olahraga elit, dampak ekonominya justru dinikmati masyarakat kelas menengah ke bawah—mulai dari pekerja lapangan, caddy, petugas kebersihan, hingga pelaku UMKM di sekitar area lapangan.

“Golf tidak membuat rakyat kecil rugi. Justru menjadi sumber penghidupan. Mereka menerima gaji, bonus, dan tips. Ketika lapangan ramai, pendapatan mereka meningkat,” ujarnya.

Selain itu, aktivitas wisata golf juga berkontribusi pada pendapatan daerah melalui pajak hotel, restoran, dan layanan transportasi.

Dengan berbagai indikator positif tersebut, Yafi menyimpulkan bahwa golf adalah salah satu cabang olahraga paling strategis untuk dikembangkan sebagai industri berkelanjutan di Indonesia.

“Golf bukan sekadar olahraga, melainkan industri yang memberi dampak luas bagi pariwisata, UMKM, tenaga kerja, hingga pendapatan daerah. Fakta bahwa hampir tidak ada lapangan golf yang tutup menunjukkan betapa sehatnya industri ini,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *