Berita

Akses Fast Boat Terganggu, Pekerja Pariwisata Gili Trawangan Terpukul

5
×

Akses Fast Boat Terganggu, Pekerja Pariwisata Gili Trawangan Terpukul

Share this article

Lesunya aktivitas pariwisata kembali dirasakan di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara. Minimnya kunjungan wisatawan asing dalam beberapa waktu terakhir berdampak langsung pada para pekerja sektor pariwisata yang menggantungkan hidup dari ramainya turis mancanegara.

Salah satu faktor utama yang dikeluhkan adalah terganggunya akses transportasi laut, khususnya fast boat rute Bali–Lombok. Tidak beroperasinya jalur tersebut membuat arus wisatawan asing menurun tajam, sehingga aktivitas kerja di berbagai destinasi wisata ikut terhenti.

Seorang karyawan pariwisata di Gili Trawangan, Fahrozi, mengungkapkan bahwa kondisi sepi sudah berlangsung cukup lama. Ia menyebut, tanpa kedatangan wisatawan asing, hampir tidak ada aktivitas kerja yang bisa dilakukan.

“Turis asing sepi karena fast boat Bali–Lombok tidak jalan. Kerjaan jadi ikut sepi, kadang bahkan tidak ada aktivitas sama sekali. Tapi cicilan tetap harus dibayar,” ungkapnya melalui unggahan di media sosial Facebook, Selasa (27/1/2026).

Menurutnya, selama ini wisatawan mancanegara sangat bergantung pada jalur cepat dari Bali menuju Lombok. Ketika akses tersebut terganggu, dampaknya langsung terasa pada perputaran ekonomi lokal, khususnya di kawasan wisata Gili Trawangan.

Para pekerja pariwisata kini berada dalam situasi yang semakin terjepit. Pendapatan harian menurun drastis, sementara beban pengeluaran seperti cicilan kendaraan, rumah, serta kebutuhan keluarga tidak bisa ditunda.

Kondisi ini diharapkan menjadi perhatian pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan di sektor pariwisata. Normalisasi operasional transportasi laut Bali–Lombok dinilai menjadi langkah penting untuk menghidupkan kembali aktivitas wisata di Gili Trawangan.

Selain itu, para pekerja juga berharap adanya kebijakan stimulus atau bentuk perlindungan sosial bagi karyawan pariwisata yang terdampak langsung akibat penurunan kunjungan wisatawan.

Jika situasi ini terus berlarut, dampaknya dikhawatirkan tidak hanya dirasakan oleh pekerja pariwisata, tetapi juga pelaku UMKM, penyedia jasa wisata, hingga perekonomian masyarakat Lombok Utara secara keseluruhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *