BeritaOlahraga

Universitas Mercu Buana dan Seniman Gelar Workshop Tari Tradisional di Banten

39
×

Universitas Mercu Buana dan Seniman Gelar Workshop Tari Tradisional di Banten

Share this article

Banten – Dosen serta mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komunikasi dan Fakultas Desain dan Seni Kreatif Universitas Mercu Buana bekerja sama dengan seniman Benni Krisnawardi dan Firman Hidayat Mahmud mengadakan Workshop Co-Creation Traditional Dance. Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara 2025 yang menerima dukungan hibah BIMA 2025 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kemendiktisaintek.

Program ini terinspirasi dari pengalaman “Seniman Mengajar” pada awal 2000-an. Dalam pengembangan terbaru, tim akademisi Universitas Mercu Buana—yang dipimpin oleh Henni Gusfa bersama Engga Probi Endri dan Anggi Dwi Astuti—menggandeng koreografer Benni Krisnawardi dari Sigma Dance Theater serta mitra sasaran Firman Hidayat Mahmud. Tujuan utama kegiatan ini adalah menghidupkan kembali kekayaan tari tradisional Nusantara serta memproduksi karya tari baru yang lebih adaptif dengan tren seni kontemporer.

Pelatihan Co-Creation Traditional Dance dimulai pada 27 Oktober 2025 di Sanggar Gentra Taruna, Kelurahan Tanjungjaya, Kecamatan Panimbang. Sanggar ini berada di kawasan strategis dekat destinasi wisata Tanjung Lesung dan memiliki tradisi panjang dalam pembinaan seni tari bagi generasi muda. Melalui program ini, Gentra Taruna diarahkan menjadi prototipe pelestarian tari tradisional berbasis pengemasan ulang yang modern dan terintegrasi dengan perkembangan seni digital.

Dengan pendekatan kreatif dan berkelanjutan, sanggar ini diharapkan menjadi ruang evolusi seni tari, tempat para pelajar memadukan teknik klasik dengan interpretasi baru yang lebih segar.

Lurah Tanjungjaya, Astaka, turut menyampaikan dukungannya:

“Program ini menjadikan sanggar bukan sekadar ruang latihan, tetapi laboratorium kreativitas tempat teknik tradisi dapat dikembangkan lewat metode pengajaran kontemporer untuk menghasilkan pertunjukan yang mampu menjangkau audiens lebih luas.”

Sebanyak 20 peserta—seluruhnya anggota Sanggar Gentra Taruna yang masih berstatus siswa SMP dan SMK—mengikuti pelatihan. Para pengajar, yang juga merupakan pendidik di sekolah setempat, membimbing mereka dalam proses penciptaan karya tari yang tetap mempertahankan keaslian lokal namun relevan dengan perkembangan seni pertunjukan masa kini.

Materi yang diberikan meliputi:

• teknik dasar olah tubuh,
• ekspresi dan interpretasi gerak,
• pemahaman musikalitas dan ritme,
• kesiapan mental untuk panggung online dan offline.

Melalui pengembangan kreativitas dan pengalaman peserta, program ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem seni yang lebih hidup, terbuka, dan berkelanjutan. Kolaborasi akademisi, koreografer, dan pengelola sanggar menjadi motor utama dalam mewujudkan tujuan tersebut.

Di sela kegiatan, Firman menyampaikan harapannya:

“Semoga program ini terus berjalan dan membantu kami mengembangkan karya daerah yang dapat mendunia melalui dukungan seni pertunjukan digital.”

Para peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi. Aris mengungkapkan,
“Saya senang belajar tari. Semoga ilmu ini bermanfaat untuk masa depan.”

Sementara itu, Ilah menambahkan,
“Meski sibuk sekolah, saya tidak pernah bosan ikut program ini. Pelatihan koreografi membuat saya semakin paham cara mengolah tubuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *