Berita

Bangun Papua dari SDM, Peran Pemuda Dinilai Krusial

7
×

Bangun Papua dari SDM, Peran Pemuda Dinilai Krusial

Share this article

Jakarta – Peran generasi muda dan sektor pendidikan dinilai menjadi faktor penting dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di Papua. Peneliti senior dari Merah Pusaka Strategic Indonesia, Annas Fitrah Akbar, menegaskan bahwa kemajuan Papua tidak hanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi juga kualitas sumber daya manusia.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah ia melakukan penelitian di sejumlah wilayah di Papua, termasuk Timika. Ia menilai Papua memiliki kekayaan yang luar biasa, mulai dari potensi alam hingga keberagaman budaya dan bahasa.

Dari sekitar 700 bahasa daerah di Indonesia, hampir 400 di antaranya berasal dari Papua. Menurut Annas, hal ini merupakan kekayaan besar yang perlu dijaga, namun juga dapat menjadi tantangan apabila tidak diiringi dengan pemahaman yang sama antar kelompok masyarakat.

Hal tersebut ia sampaikan dalam diskusi bersama Komunitas Mahasiswa Pemuda Nusantara di Jakarta pada 1 April 2026.


Tantangan Tata Kelola dan Implementasi Kebijakan

Annas juga menyoroti masih adanya kendala dalam pelaksanaan kebijakan di lapangan. Ia menilai persoalan tidak hanya terletak pada regulasi, tetapi juga pada sistem dan implementasinya yang belum berjalan optimal.

Beberapa kebijakan dinilai belum tepat sasaran, sehingga manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.


Pemuda sebagai Agen Perubahan

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, ia menegaskan bahwa pemuda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan sekaligus kontrol sosial.

Namun, ia menekankan bahwa peran tersebut harus dijalankan dengan pendekatan yang edukatif dan konstruktif, bukan melalui kekerasan. Selain itu, perubahan terhadap kebiasaan sosial yang dinilai negatif—seperti konsumsi alkohol berlebihan dan perilaku kekerasan—perlu dilakukan melalui jalur pendidikan dan pendekatan sosial.


Pendidikan Berbasis Asrama sebagai Alternatif

Sebagai salah satu solusi, Annas mengusulkan penerapan sistem pendidikan berbasis asrama, khususnya di wilayah yang rawan konflik sosial. Model ini dinilai efektif dalam membentuk karakter, kedisiplinan, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih terarah.

Ia juga menekankan pentingnya pemerataan akses pendidikan sejak usia dini, peningkatan literasi keuangan, serta penguatan literasi budaya untuk menjaga identitas lokal sekaligus meningkatkan daya saing generasi muda.


Literasi untuk Mengurangi Konflik

Menurut Annas, peningkatan literasi di bidang pendidikan, ekonomi, dan budaya dapat menjadi kunci dalam mengurangi konflik antarsuku yang masih terjadi di beberapa wilayah Papua. Upaya ini juga dinilai penting untuk memperkuat kohesi sosial di tengah keberagaman.


Dorongan Kolaborasi dari Mahasiswa

Sementara itu, mahasiswa Universitas Kristen Indonesia, Arman Wakum, menilai bahwa kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan pemerintah sangat diperlukan dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia di Papua.

Ia mendukung gagasan pembentukan asrama terpadu dan sistem pendidikan terintegrasi dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi. Namun, ia menekankan bahwa pengelolaan asrama harus mampu mengakomodasi keberagaman budaya dan bahasa yang ada.

Menurutnya, jika dikelola dengan baik, sistem tersebut dapat membentuk kedisiplinan serta melahirkan generasi muda yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Papua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *