Berita

Kunci Kemajuan Papua Ada di Tangan Pemuda

7
×

Kunci Kemajuan Papua Ada di Tangan Pemuda

Share this article

Jakarta – Perubahan pola pikir generasi muda dinilai menjadi faktor krusial dalam menentukan arah masa depan Papua. Peneliti senior dari Merah Pusaka Strategic Indonesia, Annas Fitrah Akbar, menyebut bahwa kemajuan daerah sangat bergantung pada kesiapan pemudanya dalam beradaptasi dan berkembang.

Pandangan tersebut disampaikan usai ia melakukan penelitian di sejumlah wilayah di Papua, termasuk Timika. Menurutnya, Papua memiliki potensi besar, tidak hanya dari sisi sumber daya alam, tetapi juga kekayaan budaya dan bahasa yang luar biasa.

Ia mengungkapkan bahwa hampir setengah dari total bahasa daerah di Indonesia berasal dari Papua, menjadikannya salah satu pusat keragaman budaya terbesar di tanah air. Namun, keberagaman tersebut juga bisa menjadi tantangan jika tidak disertai dengan pemahaman dan kesepahaman lintas kelompok.

Hal itu disampaikannya dalam sebuah diskusi bersama Komunitas Mahasiswa Pemuda Nusantara di Jakarta pada 1 April 2026.


Tantangan Implementasi Kebijakan

Annas juga menyoroti masih adanya kendala dalam penerapan kebijakan di lapangan. Ia menilai persoalan tidak hanya terletak pada regulasi, tetapi juga pada sistem dan pelaksanaannya yang belum optimal.

Menurutnya, sejumlah kebijakan belum sepenuhnya tepat sasaran, sehingga dampaknya belum dirasakan secara maksimal oleh masyarakat.


Pemuda sebagai Agen Perubahan

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, ia menegaskan bahwa pemuda memiliki peran penting sebagai agen perubahan sekaligus kontrol sosial.

Namun, ia menekankan bahwa peran tersebut harus dijalankan dengan pendekatan yang konstruktif dan edukatif, bukan melalui kekerasan.

Di sisi lain, Annas juga mengingatkan perlunya perubahan terhadap kebiasaan sosial yang dinilai kurang produktif, seperti konsumsi alkohol berlebihan dan perilaku kekerasan, melalui pendekatan pendidikan yang berkelanjutan.


Sekolah Asrama sebagai Alternatif Solusi

Sebagai salah satu solusi, ia mengusulkan pengembangan sistem pendidikan berbasis asrama, khususnya di wilayah yang rawan konflik sosial. Menurutnya, model ini dapat membantu membentuk karakter, disiplin, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif.

Selain itu, ia menilai pentingnya pemerataan akses pendidikan sejak usia dini, serta penguatan literasi di berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga budaya, guna menjaga identitas lokal sekaligus meningkatkan daya saing generasi muda.


Literasi untuk Meredam Konflik

Annas juga menekankan bahwa peningkatan literasi—baik pendidikan, ekonomi, maupun budaya—dapat menjadi kunci dalam meredam konflik antarsuku yang masih terjadi di beberapa wilayah Papua.


Mahasiswa Dorong Kolaborasi

Sementara itu, mahasiswa Universitas Kristen Indonesia, Arman Wakum, menilai bahwa kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan pemerintah sangat penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia Papua.

Ia menyatakan dukungannya terhadap konsep pendidikan terpadu, termasuk sistem asrama yang terintegrasi dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi. Namun, ia mengingatkan bahwa pengelolaan asrama harus mampu mengakomodasi keberagaman budaya dan bahasa yang ada.

Menurutnya, jika dikelola dengan baik, sistem tersebut tidak hanya membentuk kedisiplinan, tetapi juga melahirkan generasi muda yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi Papua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *